Bioavtur: Minyak Jelantah Bisa Jadi Bahan Bakar Pesawat

Minyak Jelantah Bisa Menjadi Bahan Bakar Pesawat: Inovasi Bioavtur untuk Mendukung Energi Berkelanjutan

Peningkatan kebutuhan energi di sektor transportasi mendorong berbagai negara untuk mengembangkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Salah satu sektor yang menghadapi tantangan besar dalam upaya pengurangan emisi karbon adalah industri penerbangan. Selama ini, pesawat terbang masih bergantung pada bahan bakar fosil berupa avtur yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Oleh karena itu, pengembangan bahan bakar alternatif seperti bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi salah satu solusi yang dinilai mampu mendukung transisi menuju sistem transportasi udara yang lebih berkelanjutan (Alvayed et al., 2025).

 

Bioavtur merupakan bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber daya terbarukan, seperti minyak nabati, limbah biomassa dan minyak jelantah. Berbeda dengan avtur konvensional yang berasal dari minyak bumi, bioavtur dirancang untuk memiliki karakteristik fisik dan kimia yang serupa sehingga dapat digunakan pada mesin pesawat yang sudah ada tanpa memerlukan modifikasi besar. Penggunaan bioavtur diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi karbon di sektor penerbangan (Ruang Saintek, 2023; Alvayed et al., 2025).

 

Salah satu bahan baku yang saat ini mendapat perhatian besar adalah minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO). Minyak jelantah merupakan minyak goreng bekas yang telah digunakan berulang kali dalam proses pengolahan makanan. Penggunaan minyak goreng secara berulang dapat menurunkan kualitas minyak akibat terjadinya reaksi oksidasi dan degradasi termal. Selain berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan apabila digunakan kembali untuk menggoreng, pembuangan minyak jelantah secara sembarangan juga dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kualitas air maupun tanah (Mustam dan Ramli, 2022).

 

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku bioavtur memberikan nilai tambah terhadap limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Dalam proses produksinya, minyak jelantah diolah menggunakan teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA). Teknologi ini melibatkan proses hidrogenasi dan isomerisasi untuk mengubah struktur kimia minyak nabati menjadi hidrokarbon yang memiliki karakteristik menyerupai avtur konvensional. Melalui proses tersebut, kandungan oksigen dalam minyak dapat dihilangkan sehingga dihasilkan bahan bakar yang memenuhi standar penerbangan internasional (Athifiyah et al., 2023).

 

Secara teknis, teknologi HEFA menjadi salah satu metode produksi SAF yang paling berkembang di dunia karena memiliki tingkat konversi bahan baku yang tinggi dan mampu menghasilkan bahan bakar dengan kualitas yang baik. Menurut hasil pengembangan yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero), proses pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur telah melalui pengujian laboratorium dan menunjukkan tingkat perolehan produk yang tinggi. Hal ini membuktikan bahwa limbah minyak goreng memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi tinggi (CNBC Indonesia, 2025).

 

Dari perspektif lingkungan, penggunaan bioavtur memiliki berbagai keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil. Salah satu manfaat utamanya adalah kemampuan mengurangi emisi karbon sepanjang siklus hidup bahan bakar. Berbagai kajian menunjukkan bahwa penggunaan bioavtur berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 80 persen dibandingkan bahan bakar penerbangan berbasis fosil. Pengurangan emisi tersebut menjadikan bioavtur sebagai salah satu teknologi penting dalam mendukung target netral karbon dan mitigasi perubahan iklim di sektor transportasi udara (Athifiyah et al., 2023).

 

Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam pengembangan bioavtur. Pengembangan awal dilakukan melalui kolaborasi antara PT Pertamina (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 2021. Hasil penelitian tersebut berhasil menghasilkan bioavtur dengan campuran sekitar 2,4 persen melalui proses co-processing. Selanjutnya, bahan bakar tersebut diuji pada berbagai jenis pesawat, mulai dari pesawat CN235 hingga pesawat komersial Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia untuk memastikan aspek keamanan dan kinerjanya (Kementerian ESDM, 2025).

 

Tonggak penting dalam perjalanan pengembangan bioavtur di Indonesia terjadi pada tahun 2025 melalui penerbangan komersial perdana yang menggunakan SAF oleh Pelita Air pada rute Jakarta–Bali. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa teknologi bioavtur tidak lagi terbatas pada tahap penelitian, tetapi telah memasuki fase implementasi nyata dalam industri penerbangan nasional. Langkah tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen Indonesia dalam mendukung pengembangan energi bersih dan pengurangan emisi karbon (Kementerian ESDM, 2025).

 

Meskipun memiliki prospek yang menjanjikan, pengembangan bioavtur masih menghadapi berbagai tantangan. Ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, biaya produksi yang relatif tinggi dan kebutuhan investasi untuk pengembangan teknologi menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Selain itu, diperlukan sistem pengumpulan minyak jelantah yang terorganisasi dengan baik agar pasokan bahan baku dapat terjamin dan mendukung produksi bioavtur dalam skala besar (Alvayed et al., 2025).

 

Dengan demikian, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan bakar pesawat merupakan salah satu inovasi yang mampu mengintegrasikan konsep ekonomi sirkular dan energi berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diolah menjadi bahan bakar bernilai tinggi yang mendukung pengurangan emisi karbon di sektor penerbangan. Melalui pengembangan teknologi, dukungan kebijakan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan minyak jelantah, bioavtur berpotensi menjadi salah satu solusi strategis untuk mewujudkan sistem transportasi udara yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa depan.

 

Daftar Pustaka

Alvayed, D. et al. (2025). Transisi Energi 2050 Indonesia: Jalan Menuju Masa Depan Berkelanjutan. Jakarta: Pustaka Kaji.

Athifiyah, K., Saputro, R.W.A.W., Roesyadi, A. dan Trisanti, P.N. (2023) ‘Pra Desain Pabrik Bioavtur dari Crude Palm Oil (CPO) dengan Metode Hydroprocessed Ester and Fatty Acid’, Jurnal Teknik ITS, 12(2).

CNBC Indonesia (2025). ‘Pertamina Sulap Minyak Jelantah Jadi Avtur, Begini Respon Bos Garuda’. Tersedia di: https://www.cnbcindonesia.com/news/20250102161218-4-600328/pertamina-sulap-minyak-jelantah-jadi-avtur-begini-respon-bos-garuda (Diakses: 16 Juni 2026).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (2025). Olahan Jelantah Mengudara: Bahan Bakar Penerbangan Pertama di Indonesia. Jakarta: Kementerian ESDM.

Mustam, M. dan Ramli, I. (2022). Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Minyak Jelantah Menggunakan Katalis CaO. Yogyakarta: K-Media.

Ruang Saintek (2023). Biofuel: Dasar, Teknologi dan Prospek. Jakarta: Tiram Media.

Kimia

Terlahir Untuk Perubahan

Jayalah HMTK

Jaya! Jaya!! Jaya!!!

=====================================

Departemen Publikasi dan Dokumentasi

PH-HMTK PNUP

Periode 2025-2026

Ikuti terus semua media sosial kami:

👉 Instagram: hmtk_pnup

👉 TikTok: hmtk_pnup

👉 YouTube: HMTK PNUP

👉 E-mail: hmtkpnup@gmail.com

👉 Website: hmtkpnup.id

 

#AtmaDikara

#JayalahHMTK

#JayaJayaJaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *