Fitoplankton: Hutan Bukan Penghasil Oksigen Terbesar di Bumi

Hutan Bukan Penghasil Oksigen Terbesar di Bumi: Mengungkap Peran Penting Fitoplankton dalam Menjaga Kehidupan

Selama bertahun-tahun, hutan sering dijuluki sebagai “paru-paru dunia” karena kemampuannya menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Julukan tersebut membuat banyak orang beranggapan bahwa hutan merupakan sumber utama oksigen di Bumi. Namun, berdasarkan kajian ilmiah modern, penghasil oksigen terbesar di planet ini sebenarnya bukanlah hutan, melainkan ekosistem laut, khususnya organisme mikroskopis yang dikenal sebagai fitoplankton. Organisme ini memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan atmosfer dan mendukung keberlangsungan kehidupan di Bumi (Field et al., 1998).

 

Fitoplankton merupakan organisme autotrof berukuran mikroskopis yang hidup melayang di perairan laut. Sama seperti tumbuhan hijau di daratan, fitoplankton mampu melakukan fotosintesis dengan memanfaatkan energi cahaya matahari, air dan karbon dioksida untuk menghasilkan bahan organik serta oksigen. Karena tersebar luas di hampir seluruh lautan dunia dan memiliki laju reproduksi yang sangat tinggi, fitoplankton mampu menghasilkan oksigen dalam jumlah besar secara berkelanjutan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50–80 persen oksigen global berasal dari aktivitas fotosintesis organisme ini (Field et al., 1998).

 

Meskipun hutan menghasilkan oksigen dalam jumlah besar, tidak seluruh oksigen tersebut menjadi tambahan bersih bagi atmosfer. Dalam ekosistem hutan, sebagian besar oksigen yang dihasilkan selama fotosintesis kembali digunakan oleh tumbuhan, hewan dan mikroorganisme melalui proses respirasi dan dekomposisi. Akibatnya, kontribusi bersih hutan terhadap peningkatan kadar oksigen atmosfer relatif kecil apabila dibandingkan dengan skala produksi oksigen yang terjadi setiap hari (Falkowski, 2012).

 

Sebaliknya, di lingkungan laut terjadi mekanisme yang berbeda. Sebagian bahan organik hasil fotosintesis fitoplankton akan tenggelam ke dasar laut dan terkubur dalam sedimen selama ribuan hingga jutaan tahun. Proses penguburan karbon organik tersebut mengurangi jumlah karbon yang kembali ke atmosfer melalui respirasi sehingga memungkinkan terjadinya akumulasi oksigen dalam jangka waktu geologis. Oleh karena itu, laut memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan oksigen atmosfer Bumi (Falkowski, 2012).

 

Produktivitas fitoplankton dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Intensitas cahaya matahari, ketersediaan nutrien seperti nitrogen dan fosfor, suhu perairan serta dinamika arus laut menjadi faktor utama yang menentukan tingkat fotosintesis organisme tersebut. Salah satu fenomena yang berperan penting adalah upwelling, yaitu proses naiknya massa air kaya nutrien dari lapisan laut dalam ke permukaan. Fenomena ini mampu meningkatkan populasi fitoplankton secara signifikan sehingga produksi oksigen di wilayah tersebut juga meningkat (Falkowski dan Raven, 2013).

 

Di sisi lain, produktivitas hutan dipengaruhi oleh faktor yang berbeda, seperti curah hujan, jenis tanah, suhu lingkungan dan keanekaragaman spesies tumbuhan. Dalam kondisi perubahan iklim global saat ini, baik ekosistem laut maupun hutan menghadapi berbagai tekanan lingkungan yang dapat memengaruhi kemampuan keduanya dalam menjalankan fungsi ekologis. Peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan dan pencemaran lingkungan berpotensi mengganggu siklus karbon serta produksi oksigen di berbagai wilayah dunia (Falkowski dan Raven, 2013).

 

Meskipun bukan penghasil oksigen terbesar, hutan tetap memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan. Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida, penyimpan karbon dalam biomassa dan tanah, pengatur siklus hidrologi serta habitat bagi jutaan spesies flora dan fauna. Di Indonesia, keberadaan hutan memiliki kontribusi yang besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah yang signifikan (BRIN, 2023).

 

Pemahaman mengenai peran relatif hutan dan laut dalam produksi oksigen perlu disampaikan secara tepat kepada masyarakat. Informasi ini bukan untuk mengurangi pentingnya hutan, melainkan untuk menunjukkan bahwa ekosistem laut juga memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di Bumi. Oleh karena itu, upaya konservasi lingkungan seharusnya tidak hanya berfokus pada perlindungan hutan, tetapi juga pada pelestarian ekosistem laut yang menjadi sumber utama produksi oksigen global (Field et al., 1998; BRIN, 2023).

 

Dengan demikian, istilah “paru-paru dunia” yang sering dilekatkan pada hutan perlu dipahami secara lebih komprehensif. Hutan tetap memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, tetapi penghasil oksigen terbesar di Bumi adalah fitoplankton yang hidup di lautan. Kesadaran akan fakta ilmiah ini diharapkan dapat mendorong perhatian yang lebih besar terhadap perlindungan ekosistem laut dan hutan secara bersamaan demi menjaga keseimbangan lingkungan serta keberlanjutan kehidupan di masa depan.

 

Daftar Pustaka 

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) (2023). Kajian Perubahan Iklim dan Peran Ekosistem Hutan di Indonesia. Jakarta: BRIN. Available at: https://brin.go.id

Falkowski, P.G. (2012). ‘Ocean science: The power of plankton’, Nature Reviews Microbiology, 10, pp. 689–690.

Falkowski, P.G. and Raven, J.A. (2013). Aquatic Photosynthesis. 2nd edn. Princeton: Princeton University Press.

Field, C.B., Behrenfeld, M.J., Randerson, J.T. and Falkowski, P. (1998). ‘Primary production of the biosphere: Integrating terrestrial and oceanic components’, Science, 281(5374), pp. 237–240. https://doi.org/10.1126/science.281.5374.237.

 

Kimia

Terlahir Untuk Perubahan

Jayalah HMTK

Jaya! Jaya!! Jaya!!!

=====================================

Departemen Publikasi dan Dokumentasi

PH-HMTK PNUP

Periode 2025-2026

Ikuti terus semua media sosial kami:

👉 Instagram: hmtk_pnup

👉 TikTok: hmtk_pnup

👉 YouTube: HMTK PNUP

👉 E-mail: hmtkpnup@gmail.com

👉 Website: hmtkpnup.id

 

#AtmaDikara

#JayalahHMTK

#JayaJayaJaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *